Int’l Zhautykov Olympiad itu olimpiade Matematika dan Fisika (aku ikut fisika) yang diadakan oleh sebuah Highschool di Kazakhstan,Republican School for Physics and Mathematics Named after Zhautykov for Talented and Gifted Young Student(fiuh..
panjang banget) yang lebih mengutamakan pengajarannya di matematika dan
fisika, singkat kata sekolah supplier buat timnas olimpiade…
Nih
olimpiade diikutin oleh (klo tidak salah) 16 negara: beberapa negara
pecahan soviet, negara2 tetangga kazakhstan, dan (yang paling nyasar),
Indonesia.
Rombongan kami terdiri dari 10 orang:
- Pak Anton Wardaya (Leader Matematika)
- Pak Agus Purwanto (Leader Fisika)
- Bu Djuliawaty Rachmad (observer)
- Kontestan Matematika:
- Kevin Pramudyanto
- Joseph Andreas
- Mercia Wijaya
- Ivan Reinaldo
- Kontestan Fisika:
- Adam Badra Cahaya
- Made Surya Adhiwirawan
- Fakhri Saleh Zahedy
Kami
berangkat tanggal 13 Januari 2008 dari bandara Soekarno Hatta. Pertama
kali semua anggota rombongan berkumpul dengan lengkap (he..he… untung
gak salah orang).
Kami terbang ke Guang Zhou terlebih dulu,
disini awal keribetan yang akan terjadi di akhir perjalanan nanti,
petugas imigrasi menyetempel visa kami yang hanya untuk satu kali
masuk,rencananya digunakan pada akhir perjalanan, padahal saat itu kami
hanya transit sebentar, setelah itu terbang ke Beijing dengan
penerbangan domestik, setelah menunggu cukup lama, kami terbang
langsung ke Almaty, dengan pesawat yang relatif kecil untuk penerbangan
yang hampir lintas benua.
Setelah tiba di bandara Almaty, kami
disambut oleh udara musim dingin yang saat itu minus beberapa derajat
celcius, untungnya kami sudah menyiapkan jaket2 tebal di ransel. Dari
bandara kami langsung ke tempat penginapan, yaitu asrama sekolah
penyelenggara olimpiade ini (yang namanya panjang banget itu). Kamar
kami ada di lantai teratas, dengan susah payah kami mengangkat koper
yang cukup berat kesana. Kamar kami berupa sebuah ruangan, terdiri dari
4 kamar. Seharusnya, kami berbagi ruang dengan peserta dari Nigeria,
namun mereka tidak kunjung datang sampai acara berakhir.
Esok
sorenya, acara pembukaan dilaksanakan. Peserta-peserta dan leader
diantar ke tempat acara dengan sebuah bis yang merupakan bis umum yang
sedikit diubah sedikit. Untungnya kami datang awal sehingga kami bisa
duduk. Beberapa peserta berdiri (kelihatannya dananya tidak cukup
banyak). Seperti umumnya, acara pembukaan diisi dengan
sambutan-sambutan, namun yang sedikit menyebalkan, semua sambutan
disampaikan dalam bahasa (mungkin) rusia, padahal ini event
internasional, seharusnya pakai bahasa inggris. Masing-masing kontingen
(kayak atlet aja) tiap negara maju. Yang agak menyebalkan lagi waktu
kontingen tuan rumah maju, bahkan sampai pembawa acaranya ikut
menyoraki (kalau hanya penonton wajar, karena dibagian belakang, para
siswa sekolah yang namanya panjang tadi ikut menonton). Kemudian acara
diakhiri dengan tari-tarian yang unik, dan penyanyi - penyanyi yang,
kata fakhri, lipsync (setelah kucermati, mungkin juga), yang
menyebalkan ada satu penyanyi wanita, cukup tua, berlagak seperti
selebritis yang turun dari panggung dan jalan-jalan keliling penonton
(uh…please deh sejago2nya dia, dia kan penyanyi lokal,lipsync
lagi…).
Pagi hari saat tes teori untuk fisika atau tes 1 untuk
matematika. Bangun jam 7 kalau, untuk indonesia siang, tapi saat itu di
sana masih gelap, maklum musim dingin. Para Leader berangkat lebih
dahulu karena harus menerjemahkan soal. Jam 8 Sarapan dengan makanan
(mungkin) khas kazakhstan, yang sejak awal sudah terasa cukup aneh di
lidahku (apalagi pas waktu pertama kali sarapan disana, pak Agus
memaksaku untuk memakan sambal yang katanya rasanya mirip wasabi, pedas
banget…), tapi tetap kupaksa masuk supaya tidak kelaparan saat
mengerjakan soal. Yang lain ada yang berpikir lain, seperti, Made dan
Fakhri yang cuma makan sedikit supaya nanti tidak pingin ke WC (haha),
si Ivan, seperti biasa cuma makan sedikit. Sisanya makan dengan normal.
Akhirnya..
saatnya mengerjakan soal. Sedikit tegang, tapi tetap berusaha tenang
dengan nge-banyol bersama Made and Fakhri, matematika tesnya di gedung
sebelah. Bel berbunyi, kami masuk ke ruang masing-masing. Ruangannya
cukup nyaman, meja dan bangku standar, tapi pengawas yang hanya bicara
dalam bahasa klo tidak kazakh ya rusia. Waktu mengerjakan, beberapa
peserta bertanya pada pengawas dengan bahasa entah apa (bikin aku makin
kesel aja, semoga gak nanya jawaban), waktu aku bertanya ke pengawas
pakai bahasa inggris, eh… dia kabur… trus bawa orang (kliatannya
juri) yang bisa bahasa inggris (cape’ deh). Setelah selesai tes kami
bertiga saling mencocokkan jawaban, dan kemudian diskusi dengan pak
Agus. eh…ternyata di soal nomer tiga kami bertiga (entah kenapa
selalu tiga) salah asumsi. Sedih juga sih, jadi berpikir: "selamat
tinggal emas…". tapi tetap mencoba menyemagati diri sendiri dengan
berkata: "masih ada eksperimen besok…".
Esoknya, seperti
sebelumnya, bangun jam 7, para leader berangkat lebih dulu lagi, jam 8
sarapan. Kami kembali lagi ke kamar, aku tidur lagi, karena kami
mendapat giliran eksperimen kedua, karena alatnya terbatas. Anak
matematika berangkat lebih dulu. Sekitar sejam sebelum eksperimen, kami
berangkat ke tempat makan untuk makan siang, lagi lagi dengan setengah
hati memasukkan makanan ke dalam perut supaya tidak kelaparan, maklum
sebelum lomba selalu ada rasa grogi apalagi setelah blunder di nomor tiga kemarin. Seperti kemarin lagi, bercanda sebelum masuk ke kelas.
Pengawas
tiap ruangan sudah mempersilahkan masuk ruang, ruangannya hampir mirip
dengan yang sehari sebelumnya, cuma sekarang di tiap meja dipasang
sekat, buatannya kasar. di meja ada lampu belajar, potensiometer, jack
buaya(ato alligator), resistor, dua buah multitester, and plempeng
persegi kecil berkabel di bawah lampu. Ternyata itu solarcell. "kok
alatnya cuma sedikit" pikirku, "berarti eksperimennya singkat,dong."
Saat bela berbunyi, aku buka soal, cek-cek alat, lampu bisa nyala,
"sip!", Saklar kabl roll di sampingku kumatikan. Tak lama kemudian ada
orang yang datang padaku dan berkata "you cannot do this" sambil
menunjuk-nunjuk saklar yang kumatikan, ternyata, kabel roll meja di
belakangku menyambung ke kabel roll ku, jadi ketika saklarnya
kumatikan, lampunya mati.(hehe…) Setelah empat jam, paengawas berdiri
sambil ngomong sesuatu dalam bahasa yang aku tidak tahu, bebrapa
peserta langsung beres-beres dan keluar, tapi peserta di sebelahku
tetap duduk dan mengerjakan eksperimennya, "ah.. bodo amat
dia(pengawas) ngomong apa, aku terusin pekerjaanku ah…" beberapa saat
kemudian seseorang datang padaku, dan berkata "times up" , "ooh.. tadi
si pengawas bilang udah berakhir toh…". Aku keluar dan bertemu Made
dan Fakhri, dan diskusiin eksperimen tadi, anehnya hasil mereka beda
jauh dengan aku, bahkan kata fakhri, solarcellnya sudah ada bekas sidik
jari seseorang waktu dia baru mulai ekserimen, padahal di soal sudah
diinstruksikan untuk tidak disentuh. Gara-gara hasil kami bertiga beda
jauh, aku jadi makin ragu akan hasil pekerjaanku "aduh selamat tinggal
emasku…," pikirku. Tapi Made dan Fakhri kelihatannya juga sama-sama
ragu-ragu. "kalau aku ragu-ragu juga, gak lucu dong" pikirku, hasilnya,
selama beberapa hari itu aku berlagak sok tenang dan cuek soal hasilnya
toh bingung juga gak ada gunanya.
Hari Jumat, para peserta pergi
ke Medeo, sebelum berangkat Fakhri, yang sudah pernah ke sana, berusaha
meyakinkan kami, terutama KaPe untuk tidak usah ikut ke Medeo, "Di
Medeo kalian cuma akan naik tangga yang jumlahnya 500-an kalian akan
capek sendiri, dulu aja aku waktu musim semi. capek banget, tapi bisa
dikompensasi dengan pemangdangan di atas yang indah, tapi ya cuma itu
doang…" kata fakhri. Akhirnya tak seorang pun yang terpengaruh
Fakhri. Dia tidak ikut kami jalan-jalan ke Medeo, mungkin karena saat
dia mulai berusaha menghasut yang lain, aku berkata "alah.. paling lu
ntar ikut juga kalo yang lain ikut..", "Nggak kok, mending aku disini
mbantuin pak Agus moderasi" kata Fakhri dengan nada agak gengsi,
"Jangan sampai lu jilat ludah sendiri,ya" kataku. Sekedar
pemberitahuan, mungkin untuk anda, percakapan kami tadi saling
menghina, tapi bagi kami itu biasa, hanya gurauan sehari-hari. Akhirnya
dia tetap di sekolah untuk membantu pak Agus moderasi, dia melaporan
hasil nilai kami lewat sms.
Sementara itu, aku sedang susah
payah belajar ice skating, berkali-kali aku jatuh, tapi akhirnya bisa
berkeliling arena satu kali, wlaupun dengan susah payah dan sering
disalip oleh orang-orang lain, ada para anak muda yang berpasangan,
ataupun sendirian, bahkan oleh kakek-kakek pun aku disalip. Sementara
Made, yang sudah cukup bisa, sedang berpura-pira tidak bisa supaya
cewek siswi sekolah itu yang berbaik hati mengajarinya tidak pergi
(sial…), sedangkan yang mendekatiku cuma segerombol siswa sekolah
itu, nama-nama mereka susah disebut, yang kuingat cuma si Azamat,
karena namanya mirip sebuah tokoh di film Borat yang berkisah tentang
orang kazakhstan. Mereka datang dan bertanya "How are you?" otomatis kujawab "i’m fine" karena memang tidak apa-apa, tapi ternyata itu pertanyaan ‘apa kamu sudah bisa’ dan jawabanku berarti ‘kliatannya sudah’, oh my god, mereka menarikku dengan cepat, otomatis aku jatuh, eh… mereka cuma bilang "dawai…dawai…","apaan sih! dawai-dawai" pikirku. Acara diakhiri dengan aku yang hampir tidak ada kemajuan, yah mungkin cuma jadi sedikit lebih tahan banting.
Sesampainya
di sekolah itu, kami bertemu fakhri, dan dia berkata: "Nilai Adam cuma
naik 0,5 poin jadi 34,5 teori 21, eksperimen 13,5 (dari 45 poin total,
30 teori, 15 eksperimen) kliatannya emas. Aku 25,5 tadi udah dinaikin
0,5 eh diturunin lagi 0,5, sialan tuh si baju biru,(salah satu juri,
yang akhirnya diketahui adalah seorang Ph.D di University of Yale, USA
, entah kenapa fakhri jadi ingin daftar ke universitas itu,dasar aneh),
Made 25, eksperimenmu hancur, kok bisa? ini lagi diusahain naik lagi."
Akhirnya sampai sore kami ikut melihat moderasi, karena yang boleh
moderasi hanya leader, padahal seharusnya ada acara di Student
Palace(entah dimana). Dan makan malam di Mall yang sudah kita datangi
sebelumnya, waktu pertama kali datang, yang katanya terbesar dan
terkenal se-Almaty, padahal lebih ‘wah’ mall gading serpong dan
mungkin) lebih besar. Anehnya disini ‘Junkfood’ harganya lebih mahal
dari makanan yang gak junk, meskipun menurutku rasanya sama-sama aneh.
Yang lebih aneh lagi, di supermarket dalam mall, belanjaan kita harus
kita bungkus sendiri, dan waktu pinjam keranjang harus bayar dulu,
nanti dikembalikan setelah dikembalikan.
Perjalanan ke mall
diakhiri dengan tangan dan kaki membeku setelah berjalan di tengah
cuaca musim dingin yang tidak familiar bagi kami, orang indonesia
negara dua musim, dari mall sampai sekolah(cukup jauh juga). Meskipun
dibanding waktu pertama kali menempuh jarak itu, sekarang relatif lebih
tidak beku. Oh,ya. waktu perjalanan ke mall, si Mercia kakinya hampir
terlindas mobil gara-gara terpeleset waktu berjalan di tanah
bersalju(tanahnya sudah tertutup salju, jadi licin sekali) , waktu
perjalanan kembali dia berniat ‘balas budi’ padaku karena waktu itu
menurutnya dia kutolong. Padahal waktu itu sebenarnya, sejak awal dia
sudah minta tolong berpegangan karena tanahnya amat licin, nah, saat
dia terpeleset, tangannya terlepas dari tanganku, setelah itu baru aku
tolong dia untuk bangun. Entah aku bingung apanya yang harus dibalas.
Kembali ke ‘balas budi’, sambil tertawa dia berkata "supaya aku bisa
balas budi, kamu harus hampir ditabrak juga", sedikit merinding juga
mendengar perkataannya.
Anehnya lagi malamnya daftar nilai
peserta sudah keluar, aku peringkat empat, bisa dipastikan dapat emas,
fakhri peringkat 11, made peringkat 16, dengan asumsi distribusi
emasnya 5,10,15. Made sedikit kebingungan, antara kecewa dan berdoa
semoga perak, bahkan dia berjanji akan mentraktir kami semua kalau dia
dapat perak.
Esoknya kami bersiap-siap untuk menghadiri acara
penutupan dan pembagian medali. Waktu makan siang terlihat beberapa
orang peserta dari negara lain sudah memakai medalinya ke ruang makan,
padahal acaranya saja masih nanti sore. Ternyata itu karena
peserta-peserta mereka harus segera kembali ke negaranya karena akan
mengikuti olimpiade lain. Kami bertiga memandang mereka yang pakai
medali dengan pikiran yang sama "Sok banget sih jadi orang!"
Sorenya
acara dimulai, dan bla-bla-bla lagi, langsung aja ke pembagian medali,
awalnya langsung diumumkan Absolute Winnernya, yang matematika, siswa
entah darimana, yang fisika, siswi, namanya Anastasia dari Belarussia
dengan nilai 39,5. Kemudian Perunggu Fisika, dipanggil satu per satu,
Made, yang walnya sudah bersiap akan maju, jadi bersorak-sorak gembira,
"aku dapet perak", setelah tahu yang dipanggil sepertinya urutan 19 ke
bawah(kutagih janji traktirannya sampai sekarang belum dipenuhi).
distribusi medali fisika jadi 6emas,12 perak, 18 perunggu. Kemudian
Medali Perunggu Matematika(banyak banget),anak matematika indo sudah
pasrah, karena sejak tadi malam mereka sudah mengira tidak akan dapat
medali (ayo jangan menyerah, tahun depan ikut lagi!!!). Lalu Perak
Fisika, Fakhri lalu Made maju ke panggung, karena majunya lebih akhir
dari Fakhri, Made jadi disuruh bawa bendera, dia pakai seperti sayap
superman. Kemudian Perak Matematika (banyak). Kemudian emas Matematika
(banyak). Kemudian Emas Fisika ("akhirnya…" pikirku), Pak Agus sibuk
menyuruhku pakai bendera, leader yang lain sibuk menyuruhku supaya
cepat bergeser, agar saat dipanggil bisa langsung keluar (kenapa pada
panik sih, aku sih cool aja.. sekarang bisa bernafas lega). Aku maju,
naik ke panggung, eh, di tengah jalan benderanya agak melorot, susah
dibetulkan, jadinya benderanya kuselempangkan dipundak, padahal awalnya
kupakai seperti superman. Setelah dipasang medali, harus berbaris.
Karena barisannya cukup panjang, aku malas jalan ke ujung kiri (tempat
dipakein medali di ujung kanan) aku langsung ambil temapt di sebelah
kanan si Absolute Winner Fisika (di sebelahnya lagi Absolute Winner
Matematika, aku baris di tempat absolute winer, wakaka). Setelah
difoto, kembali ke tempat duduk, tim indonesia menyalamiku. hh… capek
juga…akhirnya selese juga.
Acara penutupan berakhir dengan
indonesia mendapat 1 emas dan 2 perak di fisika. Belarussia juara umum.
Dengan tubuh capek, kembali ke bis, merasakan udara dingin. ingin
rasanya cepet istirahat. Di tengah perjalanan, ada siswi yang mengaku
orang indonesia, berasal dari ‘Jakarta island‘
dan dia kehilangan passportnya kontan aku dan Fakhri yang
mendengarkannya tertawa. Dengan sopan Fakhri berkata "Nice try, but for
your information, Jakarta is not an island." malu gak ya siswi tadi..
Esoknya
kami belanja untuk terakhir kalinya di pasar bersama guide kita, Laela.
Saat itu telinga made merah kedinginan karena dia lupa bawa topi,
padahal suah kuingatkan sebelumnya.
Sorenya kami ke bandara
Almaty yang kecil mungil. Perjalanan kami di Kazakhstan akan segera
berakhir. Ternyta petugas bandara tidak bisa bahasa Inggris. Sudah
waktunya boarding, tapi belum
boleh masuk. Kami mengantri di depan pembatas. Tiba-tiba serombongan
orang cina yang kelihatannya barusaja mendarat dan akan ganti pesawat
tiba. mereka mengantri di belakang kami sambil bicara dengan bahasa
yang sudah cukup bosan kudengar waktu APhO di Shanghai dan ASC di
Taipei, mereka menambah tidak enak suasana hatiku.
Setelah masuk
pesawat, kami lega, tetapi aku tidak, ternyata tempat dudukku diapit
oleh tempat duduk dua orang cina yang termasuk di rombongan tadi. oh…
di perjalanan hanya sempat menonton Just For Laugh Gags, Rush Hour 3,
tidur dan makan.
Sampai di Beijing, kami disambut oleh Pak
Liang, orang cina yang dulu lahir di indonesia, umurnya 70an, lebih tua
dari indonesia. Orangnya udah agak botak, dengan serabut-serabut rambut
putih menghiasi kepala yang tertutup oleh topi, kliatannya buat
nyembunyiin botaknya.
Suhu di Beijing saat itu cuma minus 7
derajat celcius. Dengan sedikit menyombong, semua langsung keluar dari
bandara tanpa pakai armour pelindung (baju hangat), "panas banget, gw
leleh" kata beberapa anak. Setelah kami memasukkan koper-koper, kami
masuk ke mobil. Segera setelah masuk mobil, KaPe langsung berkata,
"dingin banget, gw sudah gak tahan" sementara si Fakhri yang kata dia
sedang dalam mode beruang kutub, tetap nyantai seperti biasa walaupun
gak pakai armour. Saat itu aku sebenernya sudah cukup kedinginan, tapi
karena sudah ada dalam mobil, buat apa ngaku…wakaka…
Sesampainya
di Hotel, karena jadwal keberangkatan pesawat baru esok paginya, kami
bercanda-canda lagi, sambil menunggu pak AW selese check in-in kami.
Setelah pembagian kamar, kami langsung naik, masuk ke kamar. melihat
kasur yg empuk, aku langsung melemparkan diri ke kasur (setelah
pembagian kasur dengan Made dan Fakhri yg sekamar denganku), kecapekan
setelah duduk sepanjang penerbangan dengan pesawat AirAstana yang tidak
nyaman. Setelah puas rebahan, aku tengok kamar mandi, belum sampai
kamar mandi, di depannya, udah tercium aroma-aroma busuk, kukira
berasal dari kamar mandi, kuintip ke dalam kok lebih wangi dari di luar
(mungkin lebih tepat lebih tidak bau). Usut punya usut, ternyata itu
bau sepatu Made yang diletakkan di depan kamar mandi.
Sementara
aku ambil baju dan bersiap-siap untuk mandi, Fakhri ribut gara-gara ada
kecoak di kamar mandi. "Holy… ada kecoak di kamar mandinya"
teriaknya. "Mana,sih? ah cuma kecoak. ya..ntar gw beresin" kataku.
Setelah
selese mandi, sekeluarnya dari kamar mandi si Fakhri langsung
menginterogasiku, "Kecoanya sudah lu buang? lu buang ke mana? ke WC?
udah lu flush bener2? ". "gw buang lewat saluran air yang dibawah
shower" jawabku, dia tanya lagi "Mana-mana, udah bener2 ilang?". "Tuh
liat sendiri! udah ilang kok".
Sebelum tidur, kami nonton TV
dulu, kebetulan ada acara sajian atau mungkin festival musik dari anak
muda se Asia, ada Sherina sebagai wakil Indonesia. Yang India dan
Thailand, musiknya ke-bollywood2-an.
Esoknya, jalan-jalan ke
lapangan Tian An Men, lalu langsung ke Forbidden city (dulunya tempat
tinggal kaisar sekaligus pusat pemerintahan). Made sok kuat, hari itu
dia sama sekali tidak pakai baju hangat, hanya selembar kaos (pakai
celana dan sepatu,tentunya). setelah setengah perjalanan, tangannya
sudah mulai membeku. Setelah berkeliling-keliling dengan Pak Liang
sebagai guide kami, lalu berfoto-foto, dan bercanda-canda, akhirnya
perjalanan selesai juga. Setelah itu, kami langsung makan siang,
sementara Made sudah mencapai batas kemampuannya menahan dingin, di
meja makan, dia mencelupkan jarinya yang sudah tinggal menunggu waktu
untuk membueku, ke teh yang sangat panas, dan tidak merasa panas sama
sekali, hanya hangat nyaman (kata dia..)
Setelah makan kami langsung diantar ke bandara, koper-koper kami sudah di check-in oleh pihak biro perjalanan. Metal detector
di bagian imigrasi sangat sensitif, uang logam pun terdeteksi, cukup
menyebalkan, sih. Setelah lewat imigrasi, ternyata penerbangan kami ke
GuangZhou ditunda. Padahal kami harus mengejar pesawat dari GuangZhou
ke Jakarta. Para Leader segera menelpon biro perjalanan. Kata mereka,
mereka bersama pihak airlines
akan bertanggung jawab apabila penerbangan kami tertunda akibat
kesalahan penerbangannya. Saat menunggu, para tukang dramatisir(Made
dan KaPe) mulai mendramatisir keadaan, "semoga saja pesawatnya telat,
dan kita puny waktu jalan-jalan ke Great Wall, lalu nanti setelah jalan-jalan penerbangannya telat lagi dan gitu terus selama setahun", terlalu berlebihan tentunya.
Setelah pesawat terbang pun mereka (para tukang dramatisir) masih tetap berharap kami akan telat untuk penerbangan berikutnya.
Sayangnya,
pendaratan kami melewati jadwal seharusnya(terlambat). Setelah turun
dari pesawat, kami direpotkan lagi di tempat imigrasi, tempat dimana
seminggu yang lalu, seorang petugas menegur Made yang sedang merekam
dengan handycamnya dengan berkata "cancel..cancel.."
dengan logat kental cina sehingga terdengar seperti "Kanzo…kanzo.."
di telinga kami, saat kami baru tiba di Guang Zhou dalam perjalanan
menuju Kazakhstan.
Setelah leader-leader protes ke pihak
keamanan bandara, akhirnya mereka mengantar kita langsung ke terminal
keberangkatan tanpa melewati imigrasi dengan sebuah bus. Sesampainya
disana, kami langsung check in . Ketika melewati detector, entah kenapa sepatu pun diminta dibuka dan dimasukkan scanner,
tapi setelah Made memasukkan sepatunya, aku , yang baris tepat
dibelakangnya, tidak perlu membuka sepatu, mungkin karena petugasnya
sudah tidak tahan bau sepatu Made kali! setelah kuberitahu Made, dia,
maklum tukang dramatisir, langsung mengembangkan cerita menjadi: "di scannernya terlihat gelombang-gelombang radiasi bau berwarna hijau…". Setelah itu kami langsung berlari menuju gate tempat pesawat akan diterbangkan. Setelah sampai di tempat, ternyata pesawat yang ini pun ditunda… percuma deh berlarian..
Akhirnya setelah menunggu cukup lama kami terbang juga, meskipun cuaca bisa dibilang tidak mendukung.
Akhirnya perjalanan akan berakhir, dari kaca pesawat, jakarta sudah terlihat. akhirnya pesawat
mendarat di bandara Soekarno-Hatta…
Berakhirlah
perjalanan kami. Di luar, Rudy, Nabila bersama Kak Hendra yang diantar
oleh bang Poltak dengan mobil merahnya, sudah menunggu kami…
Cerita berakhir dengan lengkapnya koleksi medali kami bertiga ( emas, perak, dan perunggu)
~The~~End~~~